Jumat, Oktober 10, 2008

Cerita tentang setetes darah.

Minggu, 28 September 2008, sore itu Mamiku mendapat telepon dari tanteku yang mengabarkan kalau menantunya Fatimah membutuhkan transfusi darah karena HB-nya turun akibat pendarahan setelah melahirkan, darah yang di butuhkan adalah golongan O. Mami langsung melihatku yang sedang asyik nonton TV di kamar, aku memang punya golongan darah O seperti almarhum Papi dan di keluargaku hanya aku lah yang bergolongan darah O. Tanpa bertanya Mami langsung mengajakku ke rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading. Aku sebenarnya sempat menolak untuk pergi karena tidak pernah menjadi pendonor darah, selain itu aku agak trauma juga dengan jarum suntik karena sebelumnya tanganku sempat lebam setelah di ambil darah ketika melakukan Medical Check Up, tapi aku akhirnya tetap pergi juga ke Rumah Sakit. Kakak Iparku Agung waktu itu juga ikut pergi tapi masih belum tau apakah darahnya golongan O.

Sampai di rumah sakit, ternyata di butuhkan 3 orang untuk menjadi pendonor. Saat itu aku masih berharap ada orang lain yang bersedia jadi donor, sedangkan aku sebagai cadangan saja. Tanteku Ning Harmanto lalu datang dengan salah seorang pegawainya yang bernama Bayu dan mempunyai golongan darah O, Bayu sudah pernah menjadi pendonor, Tante Ning sendiri golongan darahnya O. Jadi sudah 3 orang yang mempunyai golongan darah O, aku, Tante Ning dan Bayu, sedangkan kakak iparku Agung masih tentative dan belum jelas sampai darahnya di periksa. Aku sempat sms ke Jessy kalau aku saat itu masih tidak berani menjadi pendonor darah, tapi Jessy meyakinkanku kalau donor darah tidak sakit.

Kami lalu berangkat ke kantor pusat PMI di Jalan Kramat Raya, donor darah harus di lakukan di sana karena darah yang di ambil harus di test dulu apakah layak untuk di donorkan ke orang lain. Saat itu aku masih belum yakin apakah aku berani jadi donor tapi rasa ingin menolong dan juga rasa terpaksa membuatku melupakan ketakutanku. Ternyata setelah di periksa, kakak iparku Agung memiliki golongan darah A, tapi ia tetap memutuskan menyumbangkan darahnya sebagai donor sukarela, jadi mau tidak mau aku memang harus jadi donor. Setelah mengisi formulir, di cek golongan darah, di periksa dokter aku di nyatakan sehat dan bisa menjadi pendonor. Ketika menunggu di ambil darah ternyata aku baru sadar banyak orang yang membutuhkan darah. Ada seorang ibu sambil membawa map plastic sibuk mencari orang yang mempunyai golongan darah A, ternyata setiap bulan ia membutuhkan darah untuk 2 orang anaknya yang sakit Thalasemia sejenis penyakit kelainan darah. Suaminya juga terkena thalasemia dan saat ini sedang di rawat di RS. Kakak iparku yang tadinya tidak berniat menyumbangkan darahnya akhirnya menjadi pendonor sukarela dan memberikan darahnya untuk ibu itu. Aku juga memberikan nomor telepon Jessy karena ia sering donor darah dan mempunyai golongan darah A. Sayang Jessy baru seminggu yang lalu donor darah sehingga harus menunggu hingga 3 bulan lagi untuk bisa donor darah lagi. Ada juga seorang ibu yang sedih karena anaknya harus di operasi jam 8 malam tapi darah yang di butuhkan belum siap karena harus diproses dulu sekitar 10-12 jam untuk memastikan apakah darah kita layak untuk di pergunakan oleh orang lain. Saat itu waktu masih sekitar jam 3 sore jadi baru tengah malam atau subuh si anak bisa menerima transfusi darah. Stock darah di PMI ternyata kosong karena sedang bulan puasa, banyak orang yang tidak bisa menjadi pendonor darah karena sedang berpuasa sedangkan kebutuhan akan darah sangat tinggi.

Aku lalu mencuci ke dua belah tanganku dengan sabun dan menunggu di panggil. Tegang dan takut sekali rasanya. Tanteku yang sama-sama belum pernah menjadi pendonor darah sama tegangnya. Petugas yang mengambil darah ternyata seorang laki-laki, sepertinya ia cukup berpengalaman. “Tolong ambil dari tangan sebelah kanan saja”, kataku kepada petugas tersebut. Biasanya kalau di ambil darah, aku lebih mudah di ambil dari tangan sebelah kanan daripada sebelah kiri. “Jangan tegang ya mbak”, kata si petugas. Tapi aku tetap saja masih tegang, setelah tanganku di pasang alat pengukur tekanan darah, mulai lah si petugas mengeluarkan kantong tempat darah berikut jarum suntiknya. “Ambil napas panjang”, kata si petugas ketika menusukkan jarum ke tanganku.... ah ternyata tidak sesakit yang ku duga. Darah langsung mengalir ke kantong darah yang di sediakan, ternyata aku harus menyumbang 350cc, banyak sekali kataku kepada si petugas, tapi katanya banyak darah yang di ambil semua berdasarkan berat badan.....tanteku hanya di ambil 250cc. Selama menunggu kantong darah penuh, aku sempat berfoto-foto dulu untuk kenang-kenangan. Setelah selesai seperti biasa semangkuk indomie, telor rebus dan susu coklat sudah menunggu. Kami lalu kembali ke Rumah Sakit untuk menjemput mami yang menunggu di sana. Keputusan apakah darah kami bisa di pergunakan masih menunggu hasil test dari PMI.

Hari itu, aku berjanji dalam hati akan terus menjadi pendonor darah dengan sukarela tanpa terpaksa. Tidak hanya menemani Jessy & Mami ketika donor tapi juga ikut menyumbangkan darah, ternyata setetes darah kita begitu berarti untuk menyelamatkan nyawa orang lain.

Engrada280908

1 komentar:

Anonim mengatakan...

yup, ternyata donor darah penting.
saya juga baru sadar setelah donor pertama kali, walaupun lengan jadi lebam selama seminggu gara2 donor darah.