Jumat, September 26, 2008

Mudik, Pembantu dan Kesepian.

Mudik, ritual yang tiap tahun selalu di lakukan oleh masyarakat Indonesia menjelang lebaran. Walau harga tiket menjadi mahal, bbm naik, macet, berdesak-desakan, capek dan lelah semua orang selalu rela dan senang melakukan ritual ini. Bertemu orangtua, keluarga dan saudara, melepas rasa kangen, berbagi kebahagiaan dan tentu saja berlibur ke kota kelahiran, melupakan sejenak kepenatan kerja dan hiruk pikuk kota Jakarta. Biasanya kami sekeluarga ikut-ikutan ritual ini walau bukan dalam rangka mudik lebaran. Karena orang yang membantu kami sehari-hari berasal dari Malingping, Banten, biasanya kami selalu mengantarnya pulang. Kasihan kalau pulang sendiri karena perjuangan untuk mudik cukup berat dan kami kasihan kalau di perjalanan ada hal-hal yang tidak di inginkan seperti di tipu atau di copet.

Pembantu, aku tidak senang dengan istilah ini, biasanya aku selalu bilang mbak atau pengasuh Leo (walau ia bukan babysitter atau Nanny). Mbak adalah asisten pribadi yang handal, kalau sedang suasana lebaran pasti banyak yang bingung karena di rumah tidak ada yang membantu untuk cuci baju, setrika, cuci piring, membersihkan rumah dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Selama aku menikah selama hampir 11 tahun ini mbak Yanti adalah asisten pribadiku yang ke 6. Dia masih muda mungkin sekarang usianya baru 15 tahun, asalnya dari Malingping, Banten, rumahnya dekat dengan rumah keluarga Elgersma di Pasirbereum, Yanti adalah cucu dari penjaga portal keluarga Elgersma.

Dulu Leo punya pengasuh yang lumayan lama ikut kami namanya Nisa, dia juga berasal dari Malingping, Banten. Nisa ikut kami cukup lama sekitar 5 tahun dari Leo belum sekolah sampai Leo kelas 2 SD. Waktu Nisa minta ijin untuk tidak bekerja lagi karena mau menikah Leo sempat sedih, aku mencoba memberi Leo pengertian bahwa pengasuh bisa pergi kapan saja, walau mereka betah bekerja dengan kami, kadang mereka juga mempunyai rencana sendiri untuk hidup mereka seperti menikah atau berhenti bekerja karena ingin beristirahat. Leo sekarang sudah besar aku selalu memberi pengertian supaya ia tidak sedih jika sewaktu-waktu kami mempunyai pembantu baru. Mungkin sudah waktunya juga untuk Leo belajar mandiri, supaya tidak tergantung dengan orang lain. Maklum anak generasi masa sekarang, orangtua sibuk kerja, mencari rejeki, kami hanya bertemu dan berkumpul di malam hari.

Kalau sedang tidak ada pembantu, wah repotnya baru terasa, ternyata pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sangatlah berat dan melelahkan. Aku selalu kagum dan bangga dengan semua wanita yang memutuskan untuk berkarir di rumah dan menjadi ibu rumah tangga. Ternyata jadi ibu rumah tangga murni (tidak di bantu oleh orang lain) lebih berat dari bekerja di kantor. Kalau pembantu mudik pasti semua ibu pekerja ikut merasakan dampaknya. Biasanya pulang kantor bisa langsung beristirahat tapi kalau tidak ada pembantu masih ada pekerjaan lain yang menunggu seperti merapikan kamar, mencuci baju, setrika dll.

Kesepian, Sabtu 27 September 2008, Jessy dan Leo mengantar mbak Yanti ke Malingping, Banten. Aku tidak bisa ikut karena harus tetap bekerja pada saat cuti massal. Rencananya hari Jum'at besok tanggal 3 October 2008 baru mereka akan kembali ke Jakarta untuk menjemputku dan kembali ke Malingping untuk menjemput mbak Yanti yang masih libur lebaran. Wah tidak enak sendirian di rumah, untung ada laptop, masih bisa internet, browsing, nulis blog. Aku sempat melihat tulisan Leo di kalendar dinding yang ada di kamar, tanggal 27 September sampai tanggal 7 Oktober kalendar di lingkari dan di beri keterangan LEO LIBUR, Mama tidak kasihan deh........

Engrada270908

Tidak ada komentar: